Perjalanan Politik Muhammadiyah Sejak 1945 Sampai Sekarang

Perjalanan Politik Muhammadiyah Sejak 1945

7 November 1945
Tokoh-tokoh Muhammadiyah bersama Nahdlatul Ulama (NU), Perikatan Umat Islam, dan Persatuan Umat Islam mendirikan Partai Madjelis Sjuro Moeslimin Indonesia (Masyumi). Partai ini berideologi Islam. Sementara itu Soekarno yang merupakan Kader Muhammadiyah sekaligus Kader SI Indonesia (Syarikat Islam Indonesia) mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Golkar (Dilanjurkan Idenya oleh Presiden RI yang juga Kader Muhammadiyah H.M Soeharto) yang menjadi emberio dari hadirnya PDI-Perjuangan hari ini

5 April 1952
NU keluar dari Masyumi.

1955
Masyumi menjadi pemenang kedua dalam Pemilihan Umum 1955 dengan memperoleh 20,9 persen suara, di bawah Partai Nasional Indonesia yang meraih 22,3 persen suara.

1960
Pemerintah melarang Partai Masyumi.

19 Oktober 1964
Muhammadiyah ikut bergabung dalam Sekretariat Bersama Golongan Karya.

1968
Tokoh-tokoh Muhammadiyah mendirikan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).

1971
Hasil muktamar Muhammadiyah ke-38 di Ujung Pandang memutuskan organisasi berfokus pada gerakan dakwah Islam.

23 Agustus 1998
Muhammadiyah di BKUI mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB) bersama keluarga besar Bulan Bintang meski sebagian Masyumi mendirikan 3-4 Partai lain seperti Prof. Deliar Noer mendirikan Partai Ummat Islam (PUI), Kini PUI dipimpin oleh Abdullah Amas, sementara
Sebagian lagi, mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN). Partai ini mengikuti pemilu pertama kali pada 1999 dengan memperoleh 34 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. PAN memiliki 48 kursi di DPR periode 2014-2019.

Desember 2004
Sidang tanwir Muhammadiyah di Nusa Tenggara Barat merekomendasikan perlunya organisasi membentuk partai politik.

16 Desember 2006
Tokoh-tokoh muda Muhammadiyah mendirikan Partai Matahari Bangsa (PMB). PMB ikut dalam Pemilu 2009, tapi gagal mengikuti pemilu berikutnya. PMB kemudian melebur ke Partai Amanat Nasional

Jelang 2024

Sejumlah Partai didirikan Kader Muhammadiyah. Partai Pelita meski tak lolos didirikan oleh Beni Pramula dan Dien Syamsuddin, Partai Gelora Indonesia oleh Anis Matta dan Fahri Hamzah lalu PSI (Partai Solidaritas Indonesia) oleh Jefry Geovannie. Namun sampai saat ini Kader Muhammadiyah juga dominan di Partai lain seperti Golkar Dan Gerindra. Di Gerindra, salah satu Mantan Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Daniel Simanjuntak jadi Ketua Bidang di DPP Gerindra

Check Also

Prabowo Dan Prof. Dasco, Kalam Dan Kuasa Membangun Dunia Dengan Indonesia Digdaya

Oleh : Abdullah Amas (Direktur Eksekutif ATUM Institute) Tiap membahas geopolitik dan krisis global, Prabowo …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *