Adu Kuat PKS VS Gelora Dalam Perebutan Posisi Kabinet Prabowo-Gibran

Adu Kuat PKS VS Gelora Dalam Perebutan Posisi Kabinet Prabowo-Gibran

Dugaan persaingan antara PKS vs Partai Gelora muncul di tulisan ini :

*Kader Remote Fii Sabilillah*

Apakah PKS akan kembali menjadi oposisi untuk ketiga kalinya? Kader-kader dibawah pasti akan siap siaga dan penuh “ghiroh” menyambutnya jika keputusan oposisi di ambil para qiyadah PKS. Tapi apakah qiyadah PKS siap jadi oposisi (lagi)?

Tampaknya qiyadah PKS sekarang ini tidak siap menjadi oposisi. Qiyadah PKS sedang menjajaki bergabung dengan kabinet Prabowo-Gibran. Proposalnya qiyadah PKS sekarang ini adalah Kabinet Prabowo-Gibran tanpa Partai Gelora. Dengan capaian suara Pemilu 2024 yg cukup lumayan, tampaknya Qiyadah PKS cukup percaya diri untuk melakukan posisi tawar ke Prabowo. Mardani Alisera sudah memberikan *kode halus ketika secara ekplisit menyampaikan bahwa quick count itu produk ilmiah yang harus di akúi akurasi hasilnya.* Dalam budaya PKS tidak mungkin seorang Mardani bicara atas nama pribadi, biasanya Mardani ditugaskan untuk cek ombak, sebelum qiyadah PKS melakukan langkah-langkah strategis dan taktis.

Lalu bagaimana dengan kader-kader PKS yang sudah terstruktur, sistematis dan massif melakukan demarketing bahkan black campaign terhadap Prabowo-Gibran? Linimasa para buzzer-buzzer PKS yang setiap hari melakukan kampanye negatif ke pasangan 02 apakah bisa menerima jika PKS bergabung ke pemerintahan Prabowo-Gibran?

Qiyadah PKS adalah naqib dan murobbi para kader, mereka sangat tahu bagaimana mengendalikan dan mengontrol kader-kadernya. Kader PKS itu kader *”remote fii sabilillah”*, mudah di *”remote”* oleh qiyadah, naqib dan murobbinya. Ketika keputusan di ambil maka tidak ada ruang bagi kader untuk kritis apalagi menolak. Semua semudah menyalakan TV dengan remote. Ada “taklimat” (instruksi terstruktur) dan di iringi dengan “bayanat” (Penjelasan dan konsideran pengambilan keputusan) sebagai instrumen untuk membuat semua kader-kader PKS “qona’ah” terhadap keputusan qiyadah. Apalagi nanti di embel-embeli bahwa keputusan ini sebagai langkah untuk menjauhkan dan menyingkirkan Partai Gelora dari pemerintahan Prabowo-Gibran ke depan.

Para pengamat atau pemilik lembaga survei yang sering di pakai oleh PKS juga sudah mulai menyuarakan bahwa PKS layak bergabung ke pemerintahan Prabowo-Gibran karena punya kedekatan personal dan histori, juga modal elektoral yang lumayan signifikan.

Apakah PKS akan goyang jika bergabung ke pemerintahan Prabowo-Gibran? *TIDAk!* Selama pola hubungan qiyadah-jundiyah tetap menjadi ideologi partai, dan ketaatan mutlak kader dengan para qiyadahnya menjadi doktrin partai, maka apapun manuver qiyadah PKS akan selalu ditaati para kader nya.

*RUDY AHMAD*
*Magelang, 23/02/2024*

Ketakutan PKS

Menilik Tulisan Diatas, Menjadi sangat perlu diwaspadai gerilya PKS yang selalu takut kepada sesama Partai Islam atau Berbasis Massa Islam. Sudah banyak cerita seperti itu tapi apakah Fahri Hamzah cs mengalah bila PKS Ajukan Proposal itu. Bisa saja Fahri cs tetap di pemerintahan Prabowo tapi tak diposisi strategis.

Politik adalah bicara Power

Belum selesai mata Fahri Hamzah terlihat lelah melihat suara Partai Gelora yang nol koma, tantangan Gelora terhadap kemungkinan hadirnya PKS kian terasa. Akankah Fahri merasa cukup dengan menjaga Pantai Gelora di NTB sambil menyaksikan PKS masuk Kabinet atau ada solusi yang lebih win-win solution antara PKS, 02 dan Gelora

Bagaimanapun pemikiran-pemikiran Anis Matta tetap dibutuhkan 02 dan Bangsa ini meski suara teramat minim mengingat PT saat ini yang 4 persen hal yang susah dilampaui sekalipun dimasa Pemilu 1999. Secara objektif perolehan suara Partai Gelora tetap diperlukan sebagai Partai untuk mengangkat terus pemikiran-pemikiran Anis Matta

Namun masuknya PKS ke 02 juga harus diikuti dengan sikap PKS untuk tidak lagi terlalu besar memberi panggung buat mulut-mulut seperti Tifatul Sembiring, M Iqbal, Sohibul Iman dan lainnya.

Check Also

Sang Musisi, Tuntas Dan Selesai Jalankan Semua Amanat Prabowo, Termasuk Dari Koordinator Tim Strategis TKN Hingga Tim Sinkronisasi

Oleh : Abdullah Amas (Direktur Eksekutif ATUM Institute) Saya terus pelajari semakin dalam hal yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *