Angin Ber-KTP Jakarta Melihat Rusaknya Jakarta Di Masa Anies, Anies Pun Lebih Sibuk Dengan Silat Bahasa

Muhammad Maruf adalah Initiator FORUM INDONESIA SATU. Yuk lihat
Tulisan Muhammad Maruf melalui CNBC Indonesia yang
Menuliskan betapa bobroknya kinerja Anies, berikut sebagian isi tulisannya :

Penilaian ini tidak personal tapi berbasis evaluasi kinerja, berdasarkan data dan fakta atas hasil kemampuan Anies sebagai pemimpin Jakarta, menggunakan sejumlah indikator khususnya dari parameter ekonomi 2018-2022, dibandingkan dengan 23 item janji politik kampanye Pilkada DKI 2017. Dari semua komitmen itu, mayoritas memiliki parameter kualitatif sehingga sulit terukur.

Namun ada dua janji yang secara faktual dan kuantitatif bisa mengukur kapasitasnya sebagai pemimpin. Yakni janji nomor tiga; Membuka 200 ribu lapangan kerja baru, membangun dan mengaktifkan 44 pos pengembangan kewirausahaaan warga untuk menghasilkan 200 ribu pewirausaha baru, selama lima tahun. Janji nomor enam; Menghentikan Reklamasi Teluk Jakarta untuk kepentingan pemeliharaan lingkungan hidup serta perlindungan terhadap nelayan, masyarakat pesisir, dan segenap warga Jakarta. Selebihnya janji Anies bersifat kualitatif, subjektif pengukurannya.

Dengan pendapatan APBD jumbo, paling besar se-Indonesia, mencapai Rp 77 triliun di 2022, perputaran uang nasional di Jakarta mencapai 70%, dan statusnya sebagai ibukota, Anies gagal memanfaatkan potensi itu untuk memakmurkan warganya. Jumlah pengangguran semasa Anies memimpin justru meningkat ditutup di angka 8%, naik tajam dari awal memimpin 5,75% dan jauh di atas level nasional 5,86%.

Hal yang sama juga terjadi pada angka kemiskinan yang cenderung naik sejak Anies menjabat, menjadi 4,69% pada 2022. Demikian pula sewaktu Jakarta diperintah Anies yang kaya makin kaya dan miskin makin miskin, terbukti dari koefisien gini dari 0,39 menjadi 0,42 -semakin besar angka semakin buruk. Sementara itu, setelah gagal merealisasikan janji kampanye untuk membatalkan reklamasi di Teluk Jakarta yang sudah diteken pendahulunya, Anies malah memberikan izin reklamasi kepada PT Pembangunan Jaya memperluas reklamasi kawasan Ancol. Aneh Pak Anies ini.

Berbagai indikator ekonomi ini memang dipengaruhi oleh faktor adanya pandemi Covid-19 pada 2020 yang memukul perekonomian nasional, namun pemulihannya berjalan amat sangat lambat di Ibukota. Anies bahkan hampir tidak melakukan apa-apa untuk mengatasi Covid-19, semua ditekelpemerintah pusat. Kalaupun ada, itupun berupa sebuah kontainer berkarat yang disulap menjadi ala-ala laboratorium tes spesimen virus Corona.

Target Anies untuk menciptakan 200 ribu wirausaha dengan bantuan modal juga hanya pepesan kosong. Dari 332 ribu pendaftar hanya 6.000 orang mendapat dukungan dana. Program seperti waralaba Ok Oce, yang digadang-gadang menciptakan entrepreneurbaru gagal total, benar-benar hanya gimmickpolitik belaka. Hampir semua gerai Ok Oce tutup tak beroperasi lagi,

Begitu pula rumah DP 0 rupiah adalah pembohongan publik. Pertama, diksi rumah saja sudah tak pas karena nyatanya yang dibangun bukanlah rumah tapak seperti pemahaman umum, tetapi adalah rumah susun (rusun). Kedua sampai akhir masa jabatannya, hanya sekitar 2.500 unit yang terbangun atau hanya 1% dari target janji kampanye 232.214 unit.

Anies juga gagal mengatasi banjir di Jakarta. Konsep ‘air hujan masuk tanah’ atau sumur resapan tak berhasil. Anies malah sibuk dengan silat bahasa, berdebat soal kata-kata naturalisasi sungai Ciliwung sebagai upaya untuk mengatasi banjir di Jakarta, itupun tidak dikerjakan. Program yang pada zaman gubernur sebelumnya disebut sebagai normalisasi itu akhirnya diambil alih oleh pemerintah pusat mirip dengan kelakuan Gubernur Lampung dan Jambi soal jalan rusak yang heboh dikunjungi Jokowi. Bahkan proyek sodetan Ciliwung yang cukup vital untuk mengatasi banjir di Jakarta diabaikan.

Soal infrastruktur jalan pun demikian, Anies lebih banyak mengubah nama jalan dan membongkar Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) untuk alasan estetika. Kualitas infrastruktur pun buruk, seperti pada proyek Jakarta International Stadium (JIS) yang menelan dana hingga Rp5 triliun. Berbagai proyek menterengseperti moda transportasi MRT dan LRT adalah proyek pemerintah pusat yang kebetulan berlokasi di ibukota.

Di akhir kepemimpinannya, survei Political Statistics (Polstat) mengungkapkan mayoritas warga DKI kurang puas dengan penanganan Anies terhadap macet hingga banjir. Sebanyak 74,3% responden mengaku tidak puas dengan kinerja Anies mengatasi macet.

Sementara mengacu pada data Badan Pusat Statistik 2021 yang dirilis awal 2022, indeks kebahagiaan Jakarta di bawah angka nasional dan masuk 10 besar daerah tidak bahagia. Angka indeks kebahagiaan Jakarta 2021 berada pada 70,68, lebih rendah dari 2017. Berdasarkan perhitungan ini, Jakarta masuk dalam 10 provinsi dengan angka kebahagiaan terendah di akhir masa jabatannya. Padahal tagline Anies semasa kampanye adalah “Maju Kotanya, Bahagia Warganya.”


Demikian sebagian Tulisannya. Ya dan Anies hanya sibuk di silat bahasa. Bayangkan saja pasca jengkel kerap dikaitkan dengan istilah dia sendiri yang menyalahkan angin Tak Ber-KTP, dia lalu bawa-bawa Jin Dan Singgapure sebagai analog kegagalan dia mengurus Jakarta.

Check Also

Keunggulan Konsolidasi Serta Penguatan Oleh Ketua Harian DPP Partai Gerindra Dalam Menghadapi Pilkada

Oleh : Abdullah Amas (Direktur Eksekutif ATUM Institute) Prof. Dasco merupakan Ketua Harian Partai yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *