Perjalanan Prof. Yusril Ihza Mahendra Seperti HOS Tjokroaminoto Membangun Sirkulasi Elite Dan Pergerakan Rakyat Kepada Indonesia Yang Dikehendaki

Oleh : Abdullah Amas

(Direktur Eksekutif ATUM Institute)

Perjalanan Prof. Yusril Ihza Mahendra Seperti HOS Tjokroaminoto Membangun Sirkulasi Elite Dan Pergerakan Rakyat Kepada Indonesia Yang Dikehendaki. Berikut ulasannya :

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc., gelar Datuk Maharajo Palinduang lahir di Lalang, Manggar, Belitung Timur, 5 Februari 1956; adalah seorang pengacara, pakar hukum tata negara, politikus, dan intelektual Indonesia.

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Yusril merupakan putra dari pasangan Idris Haji Zainal Abidin dan Nursiha Sandon. Keluarga dari pihak ayahnya berasal dari Johor, Malaysia. Kakek buyutnya, Haji Thaib, merupakan seorang bangsawan Kesultanan Johor. Keluarga ayahnya telah menetap di Belitung sejak awal abad ke-19.

Sedangkan ibunya berasal dari Aie Tabik, Payakumbuh, Sumatera Barat. 12 Pada abad ke-19, neneknya pergi merantau dari Minangkabau dan menetap di Belitung. Kakeknya merupakan seorang sutradara teater tradisional.

Ayahnya adalah seorang penulis naskah dan novel. Yusril Ihza Mahendra meneruskan tradisi cendikiawan Melayu yang menekuni Ilmu Falsafah, Hukum, dan Kesenian.

Selain cerdas, Yusril juga aktif di organisasi sekolah. Sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Yusril sudah aktif berorganisasi di sekolahnya. Di SMP, Yusril menjadi ketua OSIS dan begitu juga saat di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Setelah lulus SMA, Yusril Ihza Mahendra menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan juga menekuni Ilmu Filsafat di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Kemudian ia mengambil gelar Master di University of the Punjab, Pakistan (1985) dan gelar Doktor Ilmu Politik di Universitas Sains Malaysia (1993). Yusril juga sempat belajar singkat selama setahun di Akademi Teater di Taman Ismail Marzuki.

Karier

Yusril memulai kariernya sebagai pengajar di Universitas Indonesia pada mata kuliah Hukum Tata Negara, Teori Ilmu Hukum, dan Filsafat Hukum. Dari universitas tersebut, ia memperoleh titel Guru Besar Ilmu Hukum. Selain mengajar, ia juga aktif dan menjadi pengurus beberapa organisasi, seperti Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Dari sinilah ia banyak berkenalan dengan tokoh muslim nasional, terutama Mohammad Natsir yang banyak mempengaruhi pandangannya. Pada tahun 1996, ia diangkat oleh Presiden Soeharto sebagai penulis pidato presiden. Hingga tahun 1998, ia telah menulis pidato untuk presiden sebanyak 204 buah.

Jelang Pemilu 1998, Yusril yang sebelumnya berkarir sebagai dosen hukum itu terjun ke dunia politik praktis. Dia mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB), titisan Partai Islam Masyumi pada era Presiden Soekarno.

Saat pemilihan presiden dilakukan di Sidang MPR RI, Oktober 1999, Yusril maju sebagai calon dengan perolehan 232 suara, Megawati 305 suara, dan Abdurahman Wahid 185 suara dan andai dia serius maju sampai akhir maka dia dengan mudah terpilih jadi Presiden namun dia memilih memberi jalan ke Gus Dur.

Ya, Peluang Yusril terbuka lebar sebagai Presiden berikutnya menggantikan BJ Habibie namun atas koalisi Poros Tengah yang terdiri dari PBB, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa dan Golkar malah memberi jalan kepada Abdurrahman Wahid yang diusung PKB. Gus Dur kemudian diadu dengan Megawati di putaran kedua. Hasilnya, Abdurrahman memperoleh suara terbanyak mengalahkan Megawati.

Karier Yusril terbilang makin moncer dalam pemerintahan. Dia beberapa kali menjadi menteri di presiden yang berbeda.

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001) dia dipercaya sebagai Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Pada era Presiden Megawati (2001-2004), dia juga dipercaya sebagai Menteri Hukum dan HAM, lalu pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2007), dia dipercaya menjadi Menteri Sekretaris Negara.

Sementara kariernya di pentas dunia, Yusril beberapa kali mewakili pemerintah di tingkat internasional. Misalnya perundingan-perundingan internasional tingkat ASEAN, Organisasi Konferensi Islam (OKI), APEC, dan Komisi Hak Asasi Manusia di PBB.

Setelah tidak menjadi pejabat negara, Yusril kembali ke dunia kampus dan mendirikan perusahaan hukum bersama adiknya Yusron Ihza dengan nama Ihza & Ihza Law Firm. Nama jasa konsultasi hukumnya pun naik daun dengan nama besar sosok Yusril ini.

Seiring perkembangan politik terkini, Yusril kembali menakhodai Partai Bulan Bintang, Bahkan pada tahun 2016, ia digadang-gadang maju sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta yang membuat trendnya dan PBB naik drastis. Hal itu membuat partai-partai lain cemburu dan tak jadi usung Prof. Yusril.

Kini jelang pendaftaran Pilpres 2024 dia salah satu dari tiga nama terkuat cawapres. Di tulisan-tulisan sebelumnya tentu kita sudah mengulas dalam melesatnya nama Prof. Yusril Ihza Mahendra

Panjangnya perjalanan Prof. Yusril meneguhkan bahwa dia hadir dalam tantangan yang penuh ketakterdugaan namun juga ikut membawanya tetap dalam arus besar Politik Tanah Air sejak era Soeharto hingga kini dimana dia Politisi senior satu-satunya yang dipercaya semua Presiden sejak era Pak Harto dan tetap terdepan dalam berita-berita Politik Tanah air

Keadilan, kearifan, kedalaman membaca medan, memang adalah sebagian hal-hal yang membuat Prof. Yusril menjadi aktor yang luar biasa dan perannya seperti HOS Tjokroaminoto pada masanya dalam memimpin pergerakan rakyat untuk terus berjalan membentuk sirkulasi elite yang bagus dengan berperan signifikan pada setiap pergantian Presiden dan menuju sistem pemerintahan yang baik, meneguhkan Islam dan Nasionalisme dengan semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu dan sepandai-pandai siyasah

Ya, dialah HOS Tjokroaminoto masa kini, bicaranya teduh, sorot matanya tajam, orasinya menggelegar kala deklarasi dan arahan-arahannya dalam pemenangan Prabowo dan PBB menggelegar seperti Guru Bung Karno yaitu HOS Tjokroaminoto berpidato, dialah HOS Tjokroaminoto masa kini yang bersiap memeluk dan melindungi Indonesia dari berbagai gempuran krisis global.

Atas berkat rahmat Allah, telah hadir Cawapres yang berjuang untuk cita-cita luhur pendiri dan Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto dan anak bangsa yang hatinya bersih bersedia ikut lokomotif Prabowo-Prof Yusril Ihza Mahendra sebagai ruh tulang punggung kebangkitan baru Indonesia dengan fresh idea, cita-cita besar, kerja-kerja besar mengajak semua komponen Bangsa Bersatu dalam kerja bersama

Sudah waktunya kita mengumpulkan yang terpisah dimasa lalu, sekarang pun bisa! Bersama Prabowo-Prof. Yusril Ihza Mahendra, Capres-Cawapres 2024

Check Also

Keunggulan Konsolidasi Serta Penguatan Oleh Ketua Harian DPP Partai Gerindra Dalam Menghadapi Pilkada

Oleh : Abdullah Amas (Direktur Eksekutif ATUM Institute) Prof. Dasco merupakan Ketua Harian Partai yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *