PUI, Pernah Ikut Pemilu 1999, Didirikan Alumni HMI-MPO

Presiden DPP Partai Ummat Islam (PUI) saat ini Abdullah Amas menjelaskan bahwa banyak kader PUI jadi pengurus Partai yang bisa ikut Pemilu karena PUI sejak ikut Pemilu 1999 tak bisa lagi ikut Pemilu

“Ada Bang Desmond Mahesa misalkan sudah jadi Tokoh Gerindra, saat masih hidup beliau jadi ketua Gerindra Provinsi maupun Anggota DPR Dari Gerindra dan banyak laporan juga kader jadi pengurus PBB (Partai Bulan Bintang)”ujar Amas

Abdullah Amas menegaskan bahwa dirinya mempersiapkan PUI untuk bisa ikut Pemilu 2029. Partai Ummat Islam (PUI) meyakini PUI bakal memenangkan Pilpres 2024 dan mengendorse puluhan Dapil Caleg dari berbagai Partai yang didukung jaringan PUI.

“Untuk Pilpres, PUI mendukung Prabowo Soebianto sebagai Capres 2024” ujar Amas

Didirikan Prof Deliar Noor Dan Alumni HMI-MPO

LIPPM didirikan oleh Yayasan yang beranggotakan tokoh-tokoh Masyumi. Mereka, antara lain Moh. Natsir, AM. Rasyidi, Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Anwar Harjono, dan Deliar Noer. Prof. Dr. Deliar Noer sebagai akademisi, peneliti, dan mantan aktivis mahasiswa dipercaya sebagai Direktur. Peneliti dan karyawan LIPPM umumnya mantan aktivis PII, HMI, dan IMM. Beberapa tema penelitian yang pernah dilakukan antara lain: sumber daya manusia pedesaan, dan tingkat kemiskinan masyarakat pedesaan.

Mantan Ketum PUI Prof. Deliar Noer, orang Indonesia pertama yang meraih gelar PhD jurusan politik. Beliau mencapai gelar doktornya di Cornel University, Amerika Serikat.(1963). Beliau, tokoh yang dikenal sangat disiplin, strik, dan berintegritas. Bahkan, sebagian kalangan menganggap beliau sebagai pribadi yang kaku.

Tidak heran jika mantan Ketua Umum PB.HMI (1953 – 1955) pernah jadi staf presiden Soeharto awal memimpin RI (1966 – 1968)

Deliar Noer, berfalsafahkan “ilmu yang tidak diamalkan bak pohon yang tak berbuah,” menerima tawaran untuk menjadi Peneliti di Universitas Nasional Australia. Tahun kedua di Australia, beliau menjadi dosen tamu Universitas Griffith. Setelah mengajar selama lima tahun, Pak Deliar dengan M. Natsir dan tokoh Masyumi lainnya membentuk LIPPM.

Deliar bersama Bung Hatta pernah mendirikan Partai Demokrasi Islam Indonesia. Awal reformasi, beliau berbeda pandangan terhadap Pimpinan DDII yang tidak melaksanakan amanat Mubes (1998). Sebab, salah satu rumusan Komisi Politik Mubes, DDII harus melaksanakan Kongres Umat Islam guna membentuk partai Islam. Pimpinan DDII lebih dulh mendeklarasikan Partai Bulan Bintang (PBB). Dampaknya, sebagian lagi berbeda juga dengan pengurus DDII yaitu Golongan muda Keluarga Besar DDII seperti Abu Ridhah, Mashadi, dan Mutammim Mulla bersama ustadz Hilmi Aminuddin membentuk Partai Keadilan (PK). Padahal, kesepakatan sebelumnya, kawan-kawan “tarbiyah” ini hanya mau menjadi wing pemuda dari partai Islam yang dilahirkan Kongres Umat Islam.

Pak Deliar sendiri dengan alumni HMI-MPO mendeklarasikan Partai Umat Islam (PUI). Beliau didaulat menjadi Ketua Presidium Forum Silaturrahim Partai-Partai Islam. Fungsi Forum ini, melakukan Stambus Accord di antara anggota forum. Stambus Accord adalah proses menggabungkan sisa suara yang tidak terpakai untuk menjadi satu atau lebih kursi DPR-RI/DPRD. Kursi hasil stambus accord ini kemudian diserahkan ke partai Islam yang belum memeroleh kursi di DPR-RI/DPRD.

Check Also

KAUP Berqurban, ATUM Institute Ungkap Makna 3 Sila Dari Pancasila Atas Hakikat Berkurban

KAUP yang merupakan wadah Alumni Universitas Pancasila menyelenggarakan Acara Berkurban   KAUP seperti diketahui dipimpin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *