Tulisan Dara Prazhinta Tentang Fundamental Ekonomi Indonesia

 

Tulisan Dara
Prazhinta Tentang Fundamental Ekonomi Indonesia

Foto/Ist
Oleh: Dara Prazhinta, Mahasiswi Program Studi Bisnis Digital FE UBB

Indonesia akan jauh dari episentrum resesi ekonomi global 2023. Fundamental ekonomi Indonesia jauh lebih sehat dan kuat serta resilien dibandingkan saat resesi 2008/2009. Tetap fokus pada kekuatan ekonomi domestik.

Pandemi Covid-19 yang menyebabkan resesi ekonomi dunia tahun 2020 telah meninggalkan warisan masalah bagi perekonomian global saat ini.

Hal ini wajar karena dunia tidak siap diterpa musibah kemanusiaan yang datang tiba-tiba dan sangat menakutkan. Berbagai kebijakan harus dikeluarkan secara kilat di sektor kesehatan, sektor riil, termasuk kebijakan fiskal dan moneter. Tak jarang kebijakan yang diambil penuh dengan risiko, bahkan mungkin tak terukur. Yang penting selamatkan dulu manusianya, urusan ekonomi dinomorduakan.

Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 sebesar -2,07 persen. Hal ini menyebabkan perekonomian Indonesia pada tahun 2020 mengalami deflasi atau penurunan drastis karena perkembangan ekonomi di Indonesia mempunyai pegerakan yang kurang stabil. Perubahan yang terjadi dipengaruhi oleh adanya pandemi Covid-19.

Pemerintah Indonesia mengeluarkan berbagai kebijakan guna mengurangi rantai penyebaran pandemi Covid-19 namun kebijakan ini menyebabkan berkurangnya jumlah konsumsi Rumah Tangga (RT) dan konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) padahal kedua konsumsi ini sangat memberi pengaruh atas kontraksi pada Produk Domestik Bruto (PDB). Konsumsi di Indonesia tidak terkendali karena situasi yang terjadi dan menyebabkan perekonomian pada konsumsi Rumah Tangga (RT) mengalami penurunan dari 5,04 persen menjadi -2,63 persen dan konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) mengalami penurunan dari 10,62 persen menjadi -4,29 persen .

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Rupiah sangat rentan dengan faktor eksternal. Untungnya, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid, inflasi masih terkendali dan ekonomi masih tumbuh di atas rata-rata perekonomian lainnya sehingga bisa menahan pelemahan rupiah tidak terlalu dalam,” kata

Ariston kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober 2023 tercatat sebesar 2,56 persen secara year on year (yoy). Inflasi tersebut tetap terjaga dalam kisaran sasaran tiga plus minus satu persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid di tengah ketidakpastian perekonomian global. Ekonomi Indonesia triwulan III-2023 tetap tumbuh kuat sebesar 4,94 persen (yoy), meskipun sedikit melambat dari pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang sebesar 5,17 persen (yoy).

Selain itu, neraca perdagangan Indonesia juga berlanjut mencatatkan surplus pada triwulan III-2023 sebesar 7,8 miliar dolar AS sehingga menopang prospek transaksi berjalan tetap sehat. Bank Indonesia menyatakan ketahanan likuiditas perbankan tetap terjaga ditopang dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 6,54 persen (yoy) pada September 2023.

Namun demikian, Ariston menuturkan karena ekonomi Indonesia juga berhubungan dengan ekonomi global, tentu perlambatan ekonomi global bisa memberikan imbas negatif ke perekonomian dalam negeri yang bisa memberikan tekanan ke rupiah.

“Belum lagi isu konflik geopolitik yang masih berlangsung dan mungkin saja ada konflik baru ke depannya yang mendorong pelaku pasar masuk ke aset aman di dolar AS,” ujarnya. langkah stabilisasi nilai tukar rupiah akan terus diperkuat sejalan dengan nilai fundamentalnya.
Selain itu, upaya lain juga akan terus dilakukan dengan meningkatkan manajemen likuiditas institusi keuangan, menarik aliran portfolio asing, serta memperluas rangka implementasi devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA). Hal itu sejalan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2023.
Adapun nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi (9/11) melemah sebesar 0,01 persen atau 1 poin menjadi Rp 15.651 per dolar AS dari sebelumnya Rp 15.650 per dolar AS.

Melihat kondisi AS yang semakin sulit dan bangkrutnya tiga bank di AS, saya kira kita harus bijak menyikapinya. Kita harus siap dengan kemungkinan terburuk AS akan jatuh terjerembap dalam resesi ekonomi, yang mungkin akan diikuti Eropa (bahkan ada kemungkinan resesinya lebih cepat dibandingkan AS).

Pada saat negara maju mengalami resesi, akan sulit bagi negara berkembang terhindar dari resesi ekonomi dunia. Apalagi dalam kebijakan moneternya, menaikkan suku bunga acuannya secara signifikan sejalan dengan kenaikan suku bunga acuan AS, dalam rangka menjaga stabilitas nilai mata uangnya terhadap dollar AS.

Perekonomian Indonesia masih bisa tumbuh positif sebesar 4,6 persen tahun 2009 dari 6,0 persen tahun 2008.
Jika kita kilas balik kondisi GFC 2008/2009, kebangkrutan Bank Lehman Brothers daya rusaknya jauh lebih besar dibandingkan dengan kolapsnya SVB dan kawan-kawan.
Hal ini dapat dilihat dari kapitalisasi pasar (market capitalization) yang hilang, untuk Lehman Brothers diperkirakan sebesar 8 triliun dollar AS. Adapun SVB dan Signature Bank, kapitalisasi pasar yang hilang hanya 300 miliar dollar AS.***

Check Also

Seketaris Gerindra DKI Pertanyakan Statment Anies Mau Mengembalikan Jakarta

Wakil Ketua DPRD DKI dari Gerindra Rani Mauliani mempertanyakan maksud Anies Baswedan yang mengatakan akan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *